Rabu, 23 November 2016

SITUS KRAMAT AMPEL PONDOK RANGGON JAKARTA TIMUR

Hari ini saya mendapati kejutan luar biasa karena telah menemukan situs yang menurut keterangan singkat masih ada hubungan dengan Sunan Ampel..
Hari Sabtu seperti biasa saya selalu berusaha untuk melakukan napak tilas sejarah Jakarta. Sabtu tanggal 19 November 2016 saya melakukan wisata ziarah di Timur Jakarta.
Saya sendiri memperoleh informasi situs ini dari beberapa sumber...yang membuat saya penasaran, kok bisa ada nama Ampel di daerah yang hijau ini. Padahal jarak Pondok Ranggon dan Ampel Denta jauh sekali. Apalagi transportasi zaman dulu masih sederhana.
Situs ini bagi warga Pondok Ranggon "wajib" hukumnya untuk didatangi setiap ada acara adat seperti sedekah bumi.
Menjadi sebuah kajian yang menarik kenapa Sunan Ampel pernah melakukan napak tilas dan berdakwah di tempat ini. Memang jika saya amati lingkungan sekitar sangat membuat orang nyaman untuk tafakur. Satu hal unik juga saya temukan disekitar situs tersebut dengan banyaknya pohon bambu. Benar benar terasa seperti Betawi tempo dulu..
Saya sempat bertanya sama Mbah Jogin yang mengurus makam ini tentang dimana letak makam tokoh yang menjadi sesepuh makam ini, beliau jawab bahwa situs ini merupakan petilasan...namun saya melihat sebuah tanah tumbuh, ada rasa "curiga"di hati saya jika tanah tersebut adalah sebuah makam, namun entahlah, saya tidak mau berspekulasi, apalagi melakukan "terawangan" seperti yang ada di tv, yang jelas setiap bulan maulid dan muharrom tempat ini selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk mengadakan acara besar di lingkungan Pondok Ranggon..
Alhamdulillah saya datang kesini sangat dihormati Mbah Jogin..Bahkan ketika saya datang beliau langsung membersihkan semua area....tentu saja saya tidak tinggal diam, sayapun ikut ikutan membersihkan area...saya dengan senang hati ikut menyapu dan mengepel lantai...Ah serasa seperti zaman dulu saja....
Jakarta harus bangga karena ada situs bersejarah yang lagi lagi membuktikan jika Islam itu sangat identik dengan negeri ini..

SITUS MAKAM BERSEJARAH KI DEKLE CONDET-TANJUNG BARAT YANG TERANCAM DIGUSUR PEMDA DKI KARENA PROYEK BETONISASI CILIWUNG

Salah satu situs makam bersejarah yang berhasil saya temukan beberapa waktu yang lalu adalah makam Ki Dekle bin Muhammad Ali. Pada masa lalu beliau adalah salah satu sosok yang dituakan oleh masyarakat Condet dan Tanjung Barat. Masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang menjaga Gedung Besar yang berada dipertigaan rindam dan TB Simatupang (kini sudah hancur terbakar).
Ki Dekle dalam sejarah singkatnya dikenal sebagai sosok yang sederhana. Menurut cerita cicitnya beliau dikenal sosok yang pemurah dan baik hati. Saya sendiri mengenal nama beliau dari beberapa sahabat yang peduli pada sejarah tokoh tokoh Betawi.
Untuk menemukan makam Ki Dekle ini memang saya harus banyak bertanya karena ternyata keberadaan makamnya cukup tersembunyi. Makam beliau sendiri terletak di pinggir sungai Ciliwung persis berada di seberang markas Rindam Jaya. Sayangnya menurut keturunan Ki Dekle, makam ini terancam digusur Pemda DKI karena pelebaran sungai. Padahal menurutnya daerah sekitar makam masih sangat hijau, dan banyak pohon pohon besar. BETONISASI yang sebenarnya merusak lingkungan rupanya sangat mengancam keberadaan makam tokoh Condet Tanjung Barat pada masa lalu ini. Sepertinya Proyek tersebut memang harus dihentikan karena ternyata banyak situs situs penting di pinggir sungai ciliwung..
Selamatkan Lingkungan dan Situs Sejarah Condet dan Tanjung Barat...!!!

NAPAK TILAS DI MARKAS PEJUANG JAYAKARTA FRONT BARAT, KAMPUNG BAMBU LARANGAN CENGKARENG (Kiprah Mujahid Kumpi Kuntara)

Habis gelap terbitlah terang..begitu kisah kampung yang pernah menjadi buah bibir pada masa lalu. Dahulu keberadaannya sangat dikenal luas oleh masyarakat Cengkareng, Kalideres dan sekitarnya dan itu lebih banyak dikaitkan dengan ilmu hitam. Pada masa lalu untuk memasuki kampung bambu larangan orang akan berfikir seribu kali karena kampung ini memang gudangnya ilmu hitam.
Mengenai keberadaan ilmu hitam seperti santet atau teluh telah diakui oleh salah satu orang tua yang saya wawancarai. Bahkan menurut beliau banyak orang luar yang telah belajar kepada para orangtua Kampung Bambu Larangan. Bahkan sampai sekarang dia masih yakin beberapa orangtua yang sudah sepuh masih menggunakan ilmu ini, paling tidak mereka simpan untuk pribadi sendiri.
Namun sejak kedatangan para pejuang Jayakarta dan menjadikan daerah ini sebagai markas perjuangan, kampung Bambu Larangan secara bertahap mulai beralih dari kampungnya ilmu hitam menjadi kampung yang Islami. Kitab Al Fatawi mencatat bahwa motor dari perubahan wajah kampung larangan adalah seorang yang bernama AHMAD KUNTARA atau KUMPI KUNTARA.
Pada penelitian saya sabtu tanggal 13 November 2016 saya memang berpatokan pada informasi kitab Al Fatawi. Dan lagi-lagi ternyata kitab Al Fatawi benar adanya. Data kitab Al Fatawi menyebutkan bahwa markas pejuang Jayakarta itu berada di masjid yang bernama Kuntara. Dan masjid itu kini bernama MASJID SAFINATUL HUSNA. Nama Safinatul Husna adalah nama yang belum lama dipergunakan. Nama Kumpi Kuntara sendiri sangat harum ditengah masyarakat karena perannya dalam perjuangan melawan Penjajah. Beliau juga berjasa besar dalam merubah wajah Kampung Bambu Larangan menjadi Islam. Keberadaan Kumpi Kuntara dan peran masjidnya sampai sekarang masih diakui bahkan setiap pembacaan tahlil atau tawassul namanya sering disebut. Hal ini menegaskan bahwa apa yang disampaikan kitab Al Fatawi benar !
Tercatat di kitab Al Fatawi, Masjid Kuntara atau Masjid Safinatul Husna pernah dijadikan basis perjuangan pada tahun 1890 s/d 1909 M. Diantara tokohnya terdapat nama Kumpi Abdul Wahab (ayah penulis kittab Al Fatawi), Kumpi Kuntara, Kumpi Satim dan kaum punti (keturunan) Mujahid Jayakarta. Orangtua yang saya wawancarai menyebutkan bahwa usia masjid ini sudah lebih 100 tahun.
Sayangnya keberadaan makam Kumpi Kuntara hilang karena pembangunah mihrab masjid. Namun ada juga yang mengatakan kalau beliau dimakamkan dibelakang Pasar Guna Karya yang tidak jauh dari masjid. Masjid Kuntara juga mempunyai keunikan. Air wudhu yang dipakai berasal dari sumur lama. Uniknya air ini ada saja yang mengambilnya untuk dipakai sebagai obat.
Memasuki Kampung Bambu Larangan seolah saya masuk lorong waktu saja. Kesan kampung ini buat saya sangat Islami. Saya datang juga tidak didasari rasa khawatir, anggapan kalau kampung ini dulunya gudangnya ilmu hitam sudah hilang menjadi daerah Islami. Peran Kumpi Kuntara yang masih kerabat Kumpi KH Ahmad Syar'i dan Pituan Pitulung juga telah memberikan wajah daerah ini bersinar bahkan Belanda mengawasi secara ketat setiap ada kegiatan kumpul di daerah yang dahulunya banyak terdapat tanaman bambu
Al Fatehah untuk Kumpi Kuntara dan Mujahid Kampung Bambu Larangan...

ANTARA PITUNG, TUAN TANAH CHINA DAN PRIBUMI PENGHIANAT

Kali ini saya mau menuliskan tema sejarah. Sumber yang saya dapati mengenai hal ini seperti biasa saya ambil dari kitab Al Fatawi dan catatan-catatan yang berserakan milik salah satu keturunan penulis kitab Al Fatawi.
Berbicara tentang Pituan Pitulung atau Pitung biasanya kita lebih banyak mengetahui dari film-film yang dibuat pada tahun 1972 terutama yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen. Padahal skenario yang ditulis dalam film itu tercampur dengan imajinasi sang penulis skenario.
Pituan Pitulung atau Pitung bagi masyarakat Betawi adalah sosok Pahlawan pembela rakyat kecil. Keberadaannya nyata dan ini dibuktikan dengan adanya tulisan tentang mereka di kitab Al Fatawi yang disalin ulang dari catatan lama pada tahun 1910 Masehi oleh Kumpi KH Ahmad Syar’i Mertakusuma.. Pitung yang diceritakan pada film tahun 1972 sebenarnya intinya tetap sama, yaitu perlawanan terhadap kezaliman rakyat kecil, hanya sayangnya pada pembuatan film tersebut banyak ahli waris Pitung yang tidak dilibatkan, lagipula masyarakat yang dekat dengan kehidupan Pitung seperti di kawasan Jipang Pulorogo (kini daerah itu meliputi daerah Slipi, Palmerah, Kemanggisan, Rawa Belong dan sekitarnya) masih sangat tertutup untuk membuka sejarah Pitung dikarenakan trauma sejarah yang telah mereka alami. Masih terasa sakit hati mereka ketika leluhurnya dizalimi oleh penjajah dan kaki tangannya. Masih terasa di relung hati mereka bagaimana beberapa anggota Pitung gugur akibat kezaliman para penguasa tiran.
Banyak yang tidak mengetahui bahwa salah satu penyebab perlawanan Pitung adalah karena adanya kesewenang wenang Tuan Tanah China yang disokong oleh Penjajah Belanda. Tuan tanah China pada masa itu sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Jakarta. Mereka ini kadang bisa menentukan kebijakan yang akan ditentukan oleh fihak Penjajah. Kerjasama dua golongan ini benar-benar telah menciptakan kesengsaraan bagi rakyat Betawi. Penjajah memang sangat memanjakan golongan yang satu ini karena dari mereka banyak mendapatkan masukan berupa “upeti”, disamping itu sejak dahulu memang golongan tuan tanah china adalah fihak yang sangat mudah diajak kerjasama dalam berbagai hal. Kerjasama dua golongan ini memang dikenal solid, keberadaannya bahkan semakin menakutkan tatkala mereka berhasil merekrut beberapa pribumi untuk dijadikan kaki tangan mereka. Pribumi yang bermental budak tersebut mereka bayar dengan uang keping sesen dua sen. Bermodalkan bayaran yang sebenarnya tidak besar itu Tuan tanah Cina dan Penjajah berhasil menciptakan ketakutan-ketakutan pada masyarakat kecil.
Pada saat ketakutan dan kegelisahan rakyat terhadap tuan tanah china dan penjajah belanda, tidak lama kemudian muncullah perlawanan rakyat Betawi yang dimotori oleh para Mujahid Islam yang bernama Pituan Pitulung yang dibentuk atas saran para Pejuang Jayakarta dibawah binaan para ulama dan sesepuh adat Jayakarta pada saat itu. Pituan Pitulung adalah perlawanan lanjutan dari perlawanan-perlawan sebelumnya yang pernah dikumandangkan Mujahid Jakarta, dan itu terjadi sejak masa Fattahillah sampai dengan masa Pituan Pitulung. Pusat gerakan ini berada di Pondok Pesantren KH Haji Naipin Kebon Pala Tenabang. Sedangkan domisili keluarga Pituan Pitulung, terutama tokoh Penghulu Pitung, mereka berada di wisma Jipang Pulorogo yang sekarang sudah menjadi milik kompas. Wisma Jipang sudah beralih menjadi milik kompas dan sudah tidak ada lagi karena diganti bangunan besar yang kini berdiri menjadi Harian Kompas Gramedia.
Munculnya Pitung jelas merupakan hal yang didambakan rakyat kecil. Rakyat mulai berani menghadapi para Centeng-centeng yang dibayar para Tuan tanah China, memang tidak semua Tuan tanah china yang bersikap seperti ini, namun jumlahnya tidak banyak, itupun mereka pada akhirnya harus loyal kepada Penjajah ketimbang kepada rakyat. Tidak jarang bentrok fisik sering terjadi antara rakyat dengan para centeng-centeng penghianat pribumi yang dibayar murah ini acap kali terjadi. Rakyat kecil yang merupakan penduduk asli Betawi tidak jarang selalu dihadapkan dengan pribumi yang didatangkan dari beberapa daerah. Politik devide et impera benar-benar dijalankan penjajah dan tuan tanah china. Kondisi demikian segera bisa dibaca Pitung. Merekapun kemudian terus melakukan perlawanan dan tekanan-tekanan kepada para centeng dan tuan tanah China. Perkelahian sering tidak terhindarkan, Namun dari beberapa perkelahian tidak ada satupun yang bisa mengalahkan Pitung. Hal ini tentu semakin membuat marah para tuan tanah china, sehingga merekapun kemudian meminta bantuan kepada penjajah untuk mengatasi perlawanan Pitung, terlihat jika para tuan tanah ini sangat ketakutan akan sepak terjang para Mujahid Jayakarta ini.Selain perlawanan fisik, Pituan Pitulung, KH Naipin juga mengadakan hubungan komunikasi politik dengan tokoh-tokoh Islam yang saat itu banyak yang simpati terhadap gerakan ini.
Belanda yang melihat kegelisahan para tuan tanah china segera menyikapi, maka diutuslah Schout Van Hinne untuk mengatasi perlawanan Pitung. Belanda juga kemudian merekrut Marsose yang merupakan Tentara Bayaran yang didatangkan dari beberapa daerah bangsa sendiri untuk menghadapi Pitung. Mendengar hal ini Para Pendekar Pitung yang dimotori oleh Radin Muhammad Ali dan Radin Muhammad Roji'ih justru semakin menghebat perlawanannya. Perlawanan tidak melulu melalui fisik, beberapa tulisan juga mereka lakukan dengan mengirimkan surat peringatan keras kepada mereka yang selama ini pro kepada Penjajah.
Gerakan Pitung semakin membuat marah pemerintah Belanda karena dalam beberapa tahun sulit untuk ditangani Schout Hinne. Hal ini bahkan telah juga membuat marah Snouck Horgronje yang merupakan penasihat Kerajaan Belanda. Snouck jengkel karena Hinne tidak mampu mengatasi Pitung. Oleh karena itu sekali lagi Belanda akhirnya membuat strategi pecah belah dengan menggunakan Marsose untuk mengejar habis para pejuang Islam ini. Belanda juga memanfaatkan pribumi lemah iman untuk membocorkan keberadaan Pitung. Para centeng-centeng bayaran direkrut dan difasilitasi. candu-candu disebar agar para anjing-anjing kompeni itu bisa berbuat anarkis dalam aksinya. Tindakan penjajah ini tentu sangat membuat senang tuan tanah china yang ada di Betawi, tidak segan-segan mereka itu mengeluarkan uang kepada Belanda agar penjajah ini segera bisa menangkap Pitung.
TIndakan Belanda selanjutnya adalah dengan mempersempit ruang gerak Pitung. Semua mata-mata dikerahkan, propaganda disebarkan. Tidak jarang terdengar berita jika anggota Pitung ada yang tertangkap, padahal kenyataannya hal itu bohong besar. Anggota Pitung hanya sekali tertangkap saat Bang Saman dan Bang Jebul tertangkap hingga kemudian mereka dipenjara di Glodok. Tapi penangkapan ini tidak lama, karena kemudian dua orang anggota Pitung tersebut berhasil lolos bahkan mereka berhasil membunuh penjaga penjara.
Lolosnya dua orang anggota Pitung tentu sangat menggelisahkan tuan tanah china dan para centeng-centeng yang telah membocorkan keberadaan Pitung. Lolosnya kedua tokoh penting itu juga membuat fihak Belanda jengkel...perburuan terus dilakukan...semua yang berkaitan dengan Pitung diteror ! Tuan tanah china semakin semena-mena, sanak famili Pituan Pitulung diancam. ternak peliharaan mereka dirampas, daerah Jipang Pulorogo yang berada di pinggir kota, mulai mereka intai dan diambil tanahnya satu persatu dan menempatkan pribumi pendatang untuk mendesak pribumi asli yang sudah ratusan menetap di daerah Jipang Pulorogo.
Pitung tetaplah Pitung, mereka terus secara keras melakukan perlawanan, dan ini sesuai dengan pesan gurunya agar mereka harus tetap berjuang dan selalu membela rakyat kecil, gelora jihad fisabillah tetap harus dikobarkan. Takbir dalam setiap perlawanan selalu dikumandangkan para pejuang Islam ini. Gerak langkah Pitung ini juga didukung keluarga besar keturunan Jayakarta yang tersebar di beberapa tempat seperti Cengkareng, Kalideres, Ciledug, Cakung, Marunda, Kebayoran, Condet, Jatinegara Kaum, Kayu Putih, Kemanggisan, Rawa Belong, Tenabang, Jelambar, Slipi, Kemandoran, Senen, Klender, Pekojan, Sawah Lio, dll.
Perjuangan Pitung terus berjalan hingga satu demi satu para tokohnya gugur. Ji’ih gugur tertembak sebelum tahun 1899 Masehi, namun jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali yang merupakan pemimpin gerakan ini gugur tahun 1905 dan kemudian mayatnya dimutilasi para anjing-anjing penjajah tersebut. Namun demikian sebelum gugur Radin Muhammad Ali masih sempat mewasiatkan kepada pengganti Ji’ih yaitu KH Ahmad Syar’i atau Kong Syar’i untuk meneruskan perjuangan Pituan Pitulung bila mereka gugur. Dan estafet perjuangan itu akhirnya diteruskan oleh Kong Syari dan keluarga besar pejuang-pejuang Jayakarta yang masih ada. Perjuangan pasca syahidnya Radin Muhammad Ali tahun 1905 Masehi dilanjutkan, hingga kemudian muncullah perlawanan petani condet dan Ki Dalang hingga akhirnya kemudian muncul nama MH Thamrin untuk bergerak di dalam bidang politik. Keberadaan para pejuang Jakarta juga mulai diperhitungkan para aktifis politik seperti HOS Cokroaminoto, Gunawan Mangunkusumo, dll. Mereka sangat simpati dengan perjuangan rakyat Jakarta yang selalu gigih dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dibumi warisan Fattahillah ini..
Masa Pitung memang telah berlalu, namun semangat jihad fisabillah mereka patut dikenang sebagai perlawanan heroik masyarakat pribumi Jakarta. Perlawanan mereka tidak pernah kalah sekalipun para tuan tanah china, pribumi penghianat dan penjajah mencoba menghalangi perlawanan mereka. Bagi Pitung mati syahid lebih mulia daripada hidup terjajah....

“INNA FATAHNA LAKA FATHAN MUBINA”

INNA FATAHNA LAKA FATHAN MUBINA

Ini negeri Jakarta
Negerinya Para Wali
Negerinya Para Ulama
Negerinya Para Mujahid
Ini negeri kecintaan Majelis Wali Agung
Negeri yang penuh Waliyulah di Lima Penjuru
Negeri yang penuh akan kisah perlawanan
Negeri yang tidak pernah senyap dari perjuangan
Ini Negeri dicintai Timur dan Barat
Negeri yang dipuja Raja raja besar
Negeri yang dirindu semua bangsa
Negeri yang dijaga para Sultan
Ini negeri dengan seribu Adzan
Negeri dengan seribu Masjid
Negeri dengan seribu Majelis
Negeri yang dipenuhi Mutiara Ahlul Bait
Ini negeri tempat berkumpulnya ahli ilmu
Negeri yang tidak pudar akan Nur Ilahiahnya
Negeri yang banyak dikunjungi Ahli Hikmah
Negeri yang bertabur dengan khazanah peradabannya
Ini negeri yang tidak pernah runtuh
Negeri yang masih kukuh dalam kurungan kemegahan
Negeri yang masih tegak menantang melawan kemaksiatan
Negeri yang tidak pernah tunduk terhadap kezaliman
Sejengkal tanah pantang kami berikan
Seonggok tanah wajib kami jaga kehormatannya
Negeri kami adalah tanah yang diberkahi
Di dalamnya terpancarkan jutaan doa
Negeri kami negeri Fathan Mubina
Hari Mulia kelahirannya
Pekik Takbir merebutnya
Sholat Tahajud Ilhamnya
Paringgi kami runtuhkan
VOC kami batasi di pinggir laut
Belanda kami pukul di pedalaman
Jepang kami kurung di semua Front
Inna Fatahna Laka Fathan Mubina
Surat Al Fath 48 Ayat 1 landasannya
Janji Allah memberikan kemenangan
Kemenangan yang nyata dan diberkahi
Tanah kami terusik
jiwa kami berontak
dada kami bergemuruh
Melihat Fathan Mubina terluka
Fathan Mubina Namamu selalu menggetarkan
Fathan Mubina namamu menembus relung hati
Fathan Mubina namamu merobohkan kesombongan
Fathan Mubina namamu merajut jiwa keberanian
Boleh saja mereka menindas kami
boleh saja mereka menistakan kami
boleh saja mereka melecehkan kami
Tapi jangan pernah sekali kali mereka menghina Fathan Mubina
Karena disana ada kitab Suci yang bersemayam di ruh dan jiwa kami
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !
FATHAN MUBINA…..Kemenangan Yang Nyata menantimu
3 November 2016
Iwan Mahmud Al Fattah...

ISLAM, HABIB DAN SEJARAH FATHAN MUBINA (JAKARTA)

Jakarta adalah kota tua dengan peradaban yang cukup panjang. Salah satu ciri khas kehidupan masyarakat Jakarta dalam peradabannya adalah wajah Islamnya. Sampai saat ini wajah Islam di negeri ini masih begitu kuat sekalipun di dalamnya dikepung dengan kehidupan modern sana sini.
Menjadi sebuah pertanyaan besar..siapakah sebenarnya yang paling besar memberikan andil dalam menentukan wajah keislaman Jakarta pada masa lalu ?
Di dalam Kitab Al Fatawi saya menemukan fakta bahwa wajah Islam di Jakarta ternyata sudah muncul pada saat namanya masih "SUNDA KELAPA". Didalam catatan kitab Al Fatawi ditegaskan bahwa wajah pemerintahan Sunda Kelapa adalah Islam, namun berdasarkan keterangan sejarah lain Sunda Kelapa akhirnya harus meredup setelah dianeksasi Kerajaan Pajajaran tahun 1522 M.
Para penguasa Sunda Kelapa ini bahkan pada tahun 1511 pernah terlibat pada perang jihad ke I melawan Portugis di Malaka dibawah komando Kesultanan Demak.
Di dalam kitab Al Fatawi hal yang mengejutkan saya, ternyata para penguasa Sunda Kelapa itu masih berkerabat dekat dengan Fattahillah Sang Mujahid Agung Pendiri Kota Jakarta. Artinya bahwa ketika Fattahillah masuk Sunda Kelapa beliau ini justru telah menyelamatkan Sunda Kelapa terhadap ancaman penjajahan yang salah satu misinya adalah penyebaran idiologi.
Sejak masuknya Fattahillah mulailah terbentuk wajah Islam di Jakarta yang saat itu beliau beri nama Fathan Mubina atau dalam bahasa lokalnya Jayakarta. Negeri Fathan Mubina di kemudian hari semakin berkembang dengan wajah Islamnya yang berlandaskan akidah AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.
Sejak masuknya Fattahillah di Negeri Fathan Mubina, maka mulailah pada saat itu gelombang para dai mendatangi negeri yang indah ini. Dalam perkembangannya, para pendakwah itu banyak dari mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah SAW yang berasal dari Hadramaut, kemudian Hijrah ke India kemudian hijrah lagi Ke Champa hingga kemudian mereka masuk ke Jawa dan pada akhirnya mereka itu ada yang menyebar ke negeri FATHAN MUBINA. Mereka dinegeri FATHAN MUBINA dikenal dengan gelar Sayyid (sekarang dikenal dengan gelar HABIB), beberapa juga menggunakan Maulana. Pada perjalanan seterusnya banyak dari mereka yang kemudian memakai gelar lokal seperti Pangeran, Raden, dan gelar-gelar lainnya. Di negeri Fathan Mubina ini peran serta keluarga Rasulullah SAW di dalam dunia dakwah plus juga politik sangat didukung kuat oleh Majelis Wali Agung yang berpusat di Kesultanan Demak. Di Jawa sendiri Majelis Wali Agung ini dikenal dengan sebutan Walisongo. WALISONGO sendiri nasabnya masih satu garis dengan Fattahillah.
Dalam beberapa catatan nasab yang pernah saya pelajari, diketahui salah satu Pendiri kota Jakarta yaitu Fatttahillah adalah seorang Sayyid (Ahlul Bait) dari keturunan Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Wajo. Kakek Fattahillah adalah adik dari Maulana Malik Ibrahim, sedangkan Sayyid Husein Jamaluddin adalah cicit Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Al Imam Alwi Ammul Faqih adalah paman dari Al Imam Faqihil Muqaddam (Al Habib Muhammad bin Ali Ba'alawi) yang merupakan leluhur para Habib di Nusantara saat ini. Fattahillah sendiri masih kerabat dekat Walisongo apalagi ibunya adalah adik Sunan Giri
Selain Fattahillah ada nama Maulana Hasanuddin Banten bin Sunan Gunung Jati Cirebon yang nasabnya juga satu garis. Ada pula nama Pangeran Ahmad Jayawikarta atau yang dikenal dengan nama Pangeran Jayakarta Jatinegara Kaum. Lagi-lagi dalam catatan yang saya miliki juga berasal dari nasab yang sama dengan Fattahillah. Nama lain seperti Ratu Bagus Angke, Pangeran Wijayakusuma juga berasal dari Sayyid Husein Jamaluddin. Generasi selanjutnya muncul nama Pangeran Sanghyang, Pangeran Sake, Pangeran Sogiri, Datuk Ibrahim, yang nasabnya sama dengan yang sudah saya sebut. Selain nama nama tersebut sebenarnya masih banyak tokoh lain. Beberapa yang saya sebut ini kelak dari keturunan mereka banyak yang menjadi ulama ulama besar Jakarta. Tentu karena sudah ratusan tahun wajah dan gaya hidup mereka sudah menjadi pribumi setempat.
Setelah era para pendiri Kota Jakarta berlalu, muncullah nama nama Sayyid Husein bin Abu Bakar Alaidrus, belum lagi nama nama lain yang tidak tercatat dalam sejarah tertulis tapi mereka hidup dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Setelah era beliau Habib Husein Alaidrus muncul nama Syekh Nawawi Banten yang pernah singgah di Pekojan. Nama lain yang tidak kalah menariknya yaitu nama Sultan Hamid Al Qadri yang berada di Angke.
Setelah fase diatas ini kemudian muncul lagi gelombang kedatangan keluarga Keturunan Rasulullah terutama pada pertengahan dan akhir abad ke 19, mereka datang secara besar-besaran ke Jakarta apalagi setelah dibukanya terusan suez. Mereka kebanyakan berasal dari Hadramaut Yaman yang banyak didominasi dari keluarga Bani Alawi.
Pada era itu muncullah nama Sayyid Usman bin Yahya, Sayyid Abdurrahman Al Habsyi, Sayyid Muhsin bin Muhammad Al Attas, serta para pendiri Jamiatul Khoir, dll. Istilah panggilan Sayyid atau Wan kemudian pada tahun-tahun selanjutnya bergeser dengan panggilan Habib. Muncullah nama Habib Ali Bin Abdurrahman Al Habsyi, Habib Ali bin Husein Al Attas, Habib Salim Jindan, Habib Salim bin Toha Al Haddad, Habib Abdullah bin Salim Al Attas, Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad, Al Habib Umar bin Hud Al Attas, Sayyidil Walid Al Habib ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF, Alhabib Abdullah bin Husein Syami Al Attas, dll.
Setelah era tersebut muncul pula nama Habib Novel bin Salim bin Ahmad bin Jindan, Habib Muhammad Al Baqir Al Attas, Habib Husein bin Ali bin Husein Al Attas, Habib Abdul Qodir Al Haddad, Habib Alwi King, Habib Syekh bin Ali Al Jufri, Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurrahman Aseegaf, Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi, Al Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Al Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf, Habib Hud bin Muhammad Al Attas, Habib Husein bin Umar Allatas, Habib Abdurrahman bin Syekh Al Attas, Habib Syekhan Al Bahar, Habib Muhammad bin Soleh Al Attas dan masih banyak lagi yang lainnya.
Maju sedikit, pada era sekarang ini muncul nama-nama tenar Habib Riziq Shihab, Habib Mundzir Mussawa, Habib Ahmad bin Ali Assegaf, Habib Segaf bin Umar Assegaf, Al Habib Husein Assegaf, Habib Ali bin Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ibrahim Al Aidit (Habib Metal), Habib Hamid bin Zaid Al Attas, Al Habib Muhsin bin Zaid Al Attas, Habib Salim bin Umar Al Attas, Habib Hasan bin Ja'far Assegaf, Habib Jindan bin Novel, Habib Ahmad bin Novel, Habib Mustofa Alaidrus, Habib Ahmad Al Habsyi dan masih banyak lagi nama nama yang lainnya.
Mereka para keturunan Rasulullah inilah yang nantinya menentukan wajah Keislaman negeri Fathan Mubina (Jakarta). Ini belum lagi para ulama keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang lebih dahulu datang dan sudah berasimilasi dengan penduduk pribumi. Dan mereka itu terutama pada era tahun 1920 s/d sekarang banyak yang merupakan pakunya ulama Jakarta. Hampir semua sanad keilmuan ulama Jakarta berasal dari keturunan dari IMAM AHMAD AL MUHAJIR AL BASRI AL HUSAINI ini sehingga tidaklah mengherankan wajah Keislaman Jakarta adalah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang mayoritas dianut oleh para keturunan Rasulullah SAW ini. Jadi kalau sekarang Jakarta didominasi wajah AHLUL BAIT atau "Keluarga Rasulullah" dalam dunia dakwahnya, itu tidaklah mengherankan sebab perjalanan sejarahnya begitu panjang..
Negeri Jakarta adalah negeri bersejarah. Banyak tokoh besar mencintai negeri ini termasuk Sultan Trenggono/Sayyid Abdurrahman/Sultan Demak II yang merupakan Panglima Tertinggi Operasi Jihad di Sunda Kelapa pada bulan Ramadhan tahun 933 Hijriah. Begitu cintanya Sultan Trenggono pada negeri ini, di akhir-akhir hidupnya beliau pernah berkata kepada Fattahillah yang merupakan adik iparnya, "AKU BERHARAP ANDA TIDAK MENINGGALKAN FATHAN MUBINA, AKU LEBIH SUKA ENGKAU MENINGGALKAN DEMAK DARIPADA ENGKAU MENINGGALKAN FATHAN MUBINA, BIARLAH DEMAK MENJADI KENANGAN TAPI FATHAN MUBINA HARUS TETAP ABADI...."

MAKAM WALI BESAR CIGANJUR, SYEKH ABDUL JALIL, Wali dengan “Magnet” tersembunyi (Penelitian Makam Jilid 3 Di Ciganjur, Bumi Fathan Mubina)

Jakarta seolah tidak pernah “kehabisan” akan informasi-informasi sejarahnya. Selama ini mungkin kita tahunya bahwa informasi sejarah Jakarta lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber yang berasal dari penjajah. Padahal dibalik itu masih banyak “harta karun” yang kiranya bisa digali di negeri Islam ini.
Pada hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2016 untuk yang kesekian kalinya saya telah melakukan napak tilas dalam rangka mencari jejak keberadaan ulama-ulama Jakarta tempo dulu. Perjalanan saya lakukan bersama salah satu sahabat saya, Rudi Iskandar...Kami melakukan pencarian makam tidak hanya satu. Total selama kurang lebih 8 jam, kami telah berhasil menemukan 5 makam bersejarah para ulama masa lalu di Jakarta. Tentu penemuan makam ini semata-mata karena Ridho Allah SWT.
Perjalanan pada Sabtu kemarin itu masih di seputaran wilayah Jakarta. Kali ini target yang akan saya tuju salah satunya adalah daerah Ciganjur Jakarta Selatan, sebuah daerah yang kini menjadi terkenal karena adanya tokoh besar Indonesia yaitu Gus Dur, disamping itu Ciganjur juga dikenal banyak muncul ulama-ulama Betawi. Artinya sebelum kedatangan Gus Dur ke wilayah, ulama-ulama Betawi sudah banyak di daerah ini dan itu nanti bisa saya buktikan ketika saya mewancarai beberapa orang tua yang tinggal di daerah sekitarnya. Bahkan pada akhir-akhir ini banyak pula saya dengar bahwa di daerah Ciganjur dan sekitarnya telah banyak muncul pondok-pondok pesantren atau madrasah. Beberapa ulama beken bahkan saya dengar hijrah ke tanah yang subur dan hijau ini.
Ciganjur sendiri bagi saya sudah tidak asing, sebab sudah berapa kali saya berkunjung dan mengadakan penelitian pada hal yang sana. Daerah ini hawanya sejuk dan kehidupannya masih cukup agamis, sehingga menurut saya wajar saja banyak ulama yang kerasan tinggal di daerah ini. Selain Ciganjur daerah yang sejenis seperti Setu Babakan, Jagakarsa, Ragunan, Kebagusan juga mempunyai kondisi yang sama.
Namun benarkah hanya itu yang menyebabkan para ulama atau tokoh sekelas Gus Dur dan beberapa ulama lainnya betah di daerah ini ?
Dalam penelitian kali ini, saya banyak menemukan fakta bahwa betapa Ciganjur itu banyak menyimpan informasi sejarah yang mencengangkan, salah satunya adalah dengan adanya keberadaan makam para ulama besar yang merupakan Waliyullah. Adanya keberadaan makam para Waliyullah bukan tidak mungkin telah menjadi “magnet” untuk menarik hati para ulama untuk datang ketempat ini. Saya sendiri merasakan ketika memasuki wilayah Ciganjur, hawanya memang “berbeda” dengan beberapa daerah yang pernah saya masuki.
Di Ciganjur sekali lagi, saya berhasil menemukan sebuah makam Waliyullah yang berada di komplek pemakaman. Informasi adanya makam ini tadinya saya peroleh dari salah satu sahabat FB saya. Tentu saja adanya informasi yang berharga ini tidak saya sia-siakan.
Makam yang saya temukan ini keberadaannya sudah ratusan tahun, masyarakat sekitarnya lebih mengenal dengan nama “KUMPI CIGANJUR”. Di area makam itu sendiri saya membaca bahwa nama beliau adalah “ SYEKH ABDUL JALIL” . Beberapa versi yang lain mengatakan bahwa nama beliau adalah SYEKH ABDURRAHMAN. Menurut salah satu penduduk sekitar bahwa yang dimakamkan itu adalah seorang Waliyullah yang hidup pada masa Walisongo. Syekh Abdul Jalil datang ke Ciganjur datang untuk melakukan dakwah Islamiah. Setiap beliau datang ke Ciganjur, Syekh Abdul Jalil selalu menambatkan kudanya di dekat makam beliau yang sekarang. Dahulu menurut penduduk tersebut ada pohon besar yang tumbuh besar. Pohon itulah tempat menambatkan kudanya Syekh Abdul Jalil.
Dalam analisis saya, Syekh Abdul Jalil sepertinya masih merupakan satu jaringan dengan tokoh-tokoh yang pernah saya teliti di daerah Ciiganjur, sebab jika dilihat dari posisi makam serta kronologis riwayat mempunyai banyak persamaaan dengan tokoh-tokoh seperti Pangeran Jaga Raksa, Datuk Hawiya Kuningan, Syekh Zakaria, Nyi Ros Pandan Wangi, Syekh Abdul Ghoni, dll. Adanya jaringan ulama ini semakin menegaskan jika Ciganjur dan sekitarnya adalah merupakan wilayah penting atau vital dalam penyebaran dan penyiaran agama Islam.
Keberadaan makam Syekh Abdul Jalil sendiri berada di jalan AMSAR atau tidak jauh dari lembaga Pendidikan Al Makmur.
Makam Syekh Abdul Jalil berada di pemakaman Wakaf Haji Amsar, masyarakat sekitar makam beliau mengenal pemakaman ini dengan nama “KOBER AMSAR”, karena Haji Amsarlah yang dahulu mewakafkan tanah ini. Di sekitar makam Syekh Abdul Jalil sendiri banyak makam para ulama Betawi tempo dulu. Jika saya lihat tulisan-tulisan serta bentuk bangunan makam memang nuansa tempo dulunya masih ketara. Selain jalan AMSAR makam ini juga bisa kita lalui melalui jalan Sila yang melewati rumah Gus Dur. Bahkan jarak makam dan rumah Gus Dur ini tidak terlalu jauh. Menurut salah satu penduduk setempat, Gus Dur sering mendatangi makam Syekh Abdul Jalil untuk berziarah dan bertafakur.
Nuansa di dalam bangunan makam bagi saya memang terasa tenang, cocok sekali untuk merenung dan bertafakur. Makam beliau sendiri sangat terpelihara dan bersih. Di sekitar makam saya juga melihat sketsa wajah Syekh Abdul Jalil beserta slsilahnya yang ternyata bila saya amati bersambung kepada Al Imam Musa Al Kadzim bin Al Imam Jakfar As-Shodiq. Saya sendiri ketika membaca nasab beliau tersebut cukup kaget, karena siapa sangka keturunan Al Imam Musa Al Kadzim ada di Indonesia, setahu saya kebanyakan keturunan Al Husaini banyak berasal dari Al Imam Ali Al Uraidhi bin Al Imam Jakfar-Assodiq, hampir jarang saya dengar keturunan Imam Musa Al Kadzim menyebar di Indonesia.
Penemuan makam ini sekali lagi membuktikan bahwa Jakarta adalah negerinya para ulama negerinya para Wali. Pantaslah bila saat ini daerah yabg bersejarah ini menjadi “magnet” untuk kedatangan para ulama dari berbagai penjuru...
Al Fatehah untuk Syekh Abdul Jalil Al Husaini.........