Rabu, 19 April 2017

RIDWAN SAIDI LAGI-LAGI MENGHINA FATTAHILLAH !

Dapat kabar malam ini kalau salah satu Budayawan Jakarta menghina Fattahillah dalam acara di Inews TV
Maaf saya mau tanya kepada RIDWAN SAIDI (Maaf saya gak pake gelar Bapak lagi karena buat saya anda sudah keterlaluan dan tidak pantas jadi seorang panutan !)
Anda berkali-kali menghina Fattahillah, seolah Fattahillah seorang pembunuh, anda gaungkan kalau Fattahillah pembunuh rakyat Betawi ? Sebenarnya maksud anda menghina dan memfitnah Fattahillah ini apa ? Apa anda pernah disakiti oleh Fattahillah ? Anda seolah-olah memposisikan diri sebagai orang yang paling faham sejarah Jakarta, padahal bukan anda saja yang mengetahui sejarah Jakarta. Saya lebih respek kepada Abah Alwi Shihab, Prof Yasmin, JJ Rizal, Zaelani Kiki, Babe Abdul Chaer, Babe Firman Muntaco, SM Ardan, Babe Rahmat Ali, Babe Gunawan Semaun, yang kesemuanya masih bersikap obyektif dan santun dalam penulisan atau pengungkapan sejarah. Tapi anda ? Berkali-kali saya perhatikan, getol sekali anda ini menghina Fattahillah ! padahal sumber yang anda gunakan berasal dari Portugis dan hikayah kedah yang menurut anda sangat "shohih" ?
Saya heran kepada anda, anda selalu merasa diri paling benar, padahal seorang sejarawan harusnya membuka diri untuk melihat fakta-fakta yang lain. Sejarawan harusnya tidak kaku dan jumud. Sejarawan itu setahu saya mempercerah khazanah pemikiran bukan menjadi sumber fitnah. Sejarawan juga tidak bisa menyatakan dirinya selalu benar mutlak, memangnya mereka TUHAN ? Apa anda sudah seperti yang terakhir ini ? Berkali-kali anda menghina Fattahillah tapi yang lucunya selalu saja anda munculkan itu setiap ada gonjang ganjing politik, jeli sekali anda ditengah suasana hiruk pikuk seperti Pilkada sekarang ini. Ingin menunjukkan eksistensi diri kalau anda seorang sejarawan hebat ?
Menghina Fattahillah padahal diri anda saja belum tentu benar. Anda begitu arogannya dengan seringnya menganggap pendapat yang lain salah. Memangnya sejarah Jakarta hanya anda saja pemilik tunggalnya ?
Mohon maaf saya hanya ingin mengingatkan kepada anda, seorang yang berjiwa Betawi tidak pantas mengaku dirinya Betawi kalau dia masih berani menghina ulama apalagi sekelas Fattahillah. Silahkan anda tanya dan keliling ke masyarakat Jakarta, Bekasi, Tangerang, Tasik, Garut, Demak, Banten, Palembang, Cirebon, Lampung, Aceh, Malaka. Tanyakan siapa Fattahillah, tanyakan juga kepada ulama ulama dari daerah yang saya sebut itu bagaimana pandangan mereka terhadap Fattahillah, bandingkan dengan teori yang anda bangun dan anda paksakan yang ternyata berasal dari penjajah kafir Portugis itu. Dari sekian banyak sejarawan hanya andalah yang paling SOK TAHU dengan berpendapat kalau Fattahillah pembunuh orang betawi. Lucu sekali anda ini, Fattahillah itu merupakan utusan Walisongo dan Kesultanan Demak. Anda faham tidak siapa Walisongo ? Atau jangan-jangan anda juga benci Walisongo ? Untuk Kesultanan Demak saya tahu anda juga sangat membencinya bukan ? Karena saya pernah mendengar langsung dari mulut anda ketika ada seminar sejarah Islam di UIN SYAHID yang diadakan Fakultas Adab dan Padepokan Padusaka.
Lucunya lagi pendapat anda mengenai Fattahillah salah satu pijakannya adalah catatan Portugis yang memang sangat membenci Fattahillah karena berhasil menghalau masuk Portugis ke Sunda Kelapa dengan tujuan utamanya "Gold, Gospel, Glory", fanatik betul anda terhadap data musuh besar Mujahid Nusantara itu ! Data penjajah kok ditelan mentah-mentah....aneh bin ajaib anda ini....sejarawan kok pasrah bongkokan dengan hanya satu sumber.
Saya tidak habis fikir terhadap diri anda ini..orang lain boleh saja diam melihat anda bercoleteh kesana kemari, mungkin karena menganggap anda seorang "pakar" dan manusia yang paling tahu tentang sejarah Jakarta, tapi buat saya tidak ! karena masih banyak sejarawan Jakarta yang bermartabat selain anda. Oh ya saya juga masih ingat ketika anda pernah berkata, "Memangnya kenapa kalau orang Cina jadi Gubernur?" Kebetulan saat itu Ahok naik jadi gubernur menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden...dengan entengnya anda mengambil perumpaan Souw Beng Kong yang jelas-jelas merupakan pendukung dan teman sejati Jan Pieter Zoon Coen Si pembunuh bengis dari negeri Batafs
Mohon maaf...bagi saya anda sudah keterlaluan dan tentu ini sangat menyakiti semua keturunan Fattahillah yang ada dimana-mana...Tingkat penghinaan anda benar-benar mencerminkan jika anda manusia yang tidak punya akhlak dan adab, terlebih ketika anda mengatakan kalau Fattahillah adalah JEWISH BARBAR. Catat ya pak tua, FATAHILLAH tulen keturunan ARAB bukan YAHUDI, dan dia bukan orang BARBAR karena dia mendapat pendidikan di Mekkah dan dia lahir dari keturunan para ulama dan keturunan Rasulullah SAW. Jangan karena anda merasa "jago" dalam hal Keyahudian, seenak perutnya mengatakan Fattahillah orang YAHUDI BARBAR....Istigfar Hai pak tua....
Semoga Allah menyadarkan dan melunturkan kesombongan anda...

Selasa, 18 April 2017

PARA MUJAHID DAN SYUHADA JAKARTA 1527 - 1945 BERDASARKAN KITAB AL-FATAWI

1. Al Hajj Fattahillah (Sayyid Ahmad Fathullah bin Maulana Mahdar Ibrahim). Berasal dari Aceh, bernasabkan kepada Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath (Makam Fattahillah di Cirebon). Keturunannya banyak yang menjadi Mujahid seperti Raden Inten, Guru Amin, Tuan Umar Baginda Saleh, Pangeran Senopati Cibarusah Bekasi), dll.
2. Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati (makam di Banten), keturunannya puluhan ribu dan banyak menyebar di Jakarta, Jawa, Sumatra dan sekitarnya.
3. Aria Jipang Jayakarta/Pangeran Aria Penangsang bin Pangeran Sekar Seda Lepen bin Raden Fattah (makam di Palembang), keturunannya banyak menyebar di beberapa daerah, terbanyak di Jakarta, Jawa Barat, Demak, Malaka, Pasuruan, Gresik, Patani, Palembang, Aceh, Sumatra Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Beberapa keturunannya yang cukup menonjol adalah Pituan Pitulung, SM Kartosuwiryo. Pangeran Kertadria Pecah Kulit.
4. Pangeran Kuningan Awangga (makam di Kuningan, Gedung Telkom), banyak menurunkan ulama-ulama dan tokoh masyarakat di daerah kuningan Jakarta Selatan
5. Raden Wijayakusuma bin Al Hajj Fattahillah (makam di Kampung Gusti Jelambar Jakarta Barat). Keturunannya banyak di Jabodetabek, beliau adalah salah satu tokoh yang mewariskan ilmu silat Jayakarta
6. Raden Ahmad Jayawikarta/Pangeran Ahmad Jaketra bin Raden Sungereksa Jayawikarta (makam di Jatinegara Kaum), keturunannya banyak terdapat di Jabodetabek. Makamnya menjadi pusat ziarah di wilayah Jakarta Timur. Makam beliau ini adalah asli dan beliau bukan bernama "Mas Ahmad" seperti yang pernah diungkap salah satu sejarawan Jakarta.
7. Raden Raksa Manggala bin Rana Manggala (Makam di Kampung Bandan Ancol), makam ini jauh lebih dahulu ada sebelum adanya tiga makam Habaib dari Fam Al Qudsi
8. Raden Bagus/Ki Mas Wisesa Adimerta (makam Kampung Katengahan Banten)
9. Raden Surya Kawisa Adimerta bin Ki Mas Wisesa Adi Merta
10. Raden Wirayuda (cicit Pangeran Wijakusuma)
11. Raden Wiranegara (makam di Jipang Pulorogo/Palmerah, makam sudah hilang
12. Raden Mertakusuma bin Raden Surya Kawisa Adi Merta (makam di Demak), keturunannya banyak di Jakarta, Palembang, Medan. Makam di Angke. di Jawa mereka dikenal dengan nama Mertokosumo
13. Raden Sena Wijaya Manggala bin Raden Raksa Manggala (makam di Senayan). Daerah Senayan sudah digusur untuk pembuatan Istora Senayan
14. Raden Wirantayudha (makam di Pasuruan), keturunannya banyak di Pasuruan. Beliau adalah salah satu pelatih pasukan perang dari Untung Surapati. Beliau adalah keturunan Aria Jipang.
15. Pangeran Wirakusuma
16. ---
17. Raden Nitikusuma I (makam di Angke)
18. Raden Abbas Mertakusuma/Raja Bungsu (makam di halaman masjid Angke)
19. Raden Kertadria/Karta Aria bin Raden Wirantayuda (makam Kampung pecah kulit), Syahid bersama Peter Ebverbelt. Beliau adalah keturunan Aria Jipang Jayakarta
20. Raden Wirasoma/Raden Abu Fattah/Raden Sumain/Raden Sri Gunung (Gugur di Pisangan Batu Gunung Sari)
21. Raden Bunyamin Mertakusuma (makam di Semarang)
22. Raden Abul Fattah Nitikusuma II/Pangeran Gunung Nyungcung (makam di Gunung Munara)
23. Raden Mustafa Nitikusuma III , terkenal dengan nama Pangeran Angke, gugur dan dimakamkan di belakang Masjid Angke
24. Raden Purbaya bin Sultan Ageng Tirtayasa (wafat di Gunung Cikur, makam Gunung Putri Cibinong)
25. Raden Sugiri/Raden Shogir (makam Jatinegara Kaum), leluhur ulama-ulama yang ada di daerah Bogor, Purwakarta, Klender, Mampang, Pancoran, Tegal Parang, Bangka, Pasar Minggu, Kuningan, Cililitan, dll
26. Raden Syahi/Raden Sake (adik Raden Sugiri), makam di Citereup, leluhur para ulama yang berada di daerah Jakarta, Bogor, Depok dan sekitarnya
27. Raden Aria Wiratanudatar (makam di Cianjur), leluhurnya para ulama Cianjur, salah satunya adalah KH Raden Abdullah bin Nuh. Hijrah dari Jakarta ke Cianjur setelah markas besarnya yang ada Tanjung Barat dirampas penjajah
28. Raden Ali Basya h bin Raden Aria Wiratudatar : Berjuang di Front Timur (Tanjung Barat, Condet)
29. Raden Cakrajaya Nitikusuma (makam di halaman masjid Jami Kampung Sawah Lio), beliau adalah leluhur Guru Mansur dan Syekh Junaid Al Batawi
30. RM Sosrodiningrat (makam di masjid Pangeran Jayakarta Mangga Dua), beliau melakukan koordinasi perjuangan dengan fihak Kraton Surakarta
31. Raden Bahsan Mertakusuma (makam di halaman wisma Jipang Slipi, makam ini sudah dipindah)
32. Ratu Ayu Mas Suriyah binti Raden Bahsan (makam dihalaman wisma Jipang, makam ini sudah dipindah)
33. Raden Ainal Alyasa (makam di Senajayaan/Senayan)
34. Raden Ahmad Muhammad/Pangeran Papak (makam di Wanaraja Garut), keturunannya banyak yang menjadi ulama besar di wilayah Garut. Beliau hijrah dari Jayakarta ke Garut karena diburu penjajah
35. Raden Jidar Nitikusuma (Makam Grogol Kemanggisan), keturunannya banyak yang menjadi mujahid. Syahid setelah mati-matian mempertahankan markas Jipang.
36. Raden Syah Aria Amin Mertakusuma (makam di Desa Jati Lanang Bekasi)
37. Raden Karta Daim Syah (Datuk Kidam), makam di Kayu Putih utara tepatnya di depan masjid Al Ghoni Kayu Putih Utara. Pendiri pertama pondok pesantren di Kayu Putih Jakarta Timur. Banyak menurunkan ulama di Rawa Mangun, Kayu Putih, Rawa Sari.
38. Raden Arbain Mertakusuma/Pangeran Aria (makam di Kampung Jawa Rawasari)
39. Raden Agung Jaya Di Karta (makam di Jatinegara Kaum), dalam sebuah penelitian diketahui bahwa salah satu keturunannya adalah ulama besar dan Pejuang legendaris Bekasi
40. Raden Abdul Wahab Mertakusuma (makam di Kampung Duri Gang Jamblang), terkenal sebagai ahli silat dan pemegang kitab Al Fatawi
41. Raden Muhammad Ali Nitikusuma (Penghulu Pituan Pitulung/Pitung), makam di Bandengan Utara, Syahid mengikuti jejak para pendahulunya dengan cara diputus tubuhnya oleh penjajah
42. Ratu Bagus/Radin Muhammad Roji'ih Nitikusuma (makam Kemandoran VII, ada juga yang mengatakan di Rawamangun), syahid tertembak.
43. KH Ratu Bagus/Radin Ahmad Syar'i Mertakusuma (Kong Syari'), makam di Palembang dikenal dengan nama BABE BETAWI. Wafat tahun 1959. Penyalin kitab Al Fatawi lama
44. Guru Ghani/Pangeran Abdullah Ghani Mertakusuma (makam Kayu Putih Utara), Waliyullah dan ulama karismatik Betawi yang berhubungan erat dengan Habib Ali Kwitang dan sezaman dengan Guru Marzuki.
45. KH Naipin (Informasi terakhir makam beliau berada di Bekasi), paman dari Radin Muhammad Ali Nitikusuma
46. Muhammad Husni Thamrin Al Qodri (makam di karet), sedangkan makam kakeknya berada di samping makam buyutnya yaitu Sultan Pontianak Hamid Al-Qodri Masjid Angke
47. KH Muslim (Guru Pituan Pitulung), makam di Bekasi
48. KH Muhammad Mansur Nitikusuma (Guru Mansur Sawah Lio), makam di halaman masjid Al Mansuriyah Sawah Lio)
49. KH Noer Ali (makam di Bekasi )
50. KH Darip (makam di Klender)
51. KH Guru Amin (makam di Kalibata)
Jumlah yang saya tulis ini baru sebagian saja, masih banyak tokoh besar lain seperti misalnya Al Allamah Guru Marzuki Cipinang Muara, Al Allamah Guru Mugni Kuningan, Guru Kholid Gondangdia, Guru Riun Tegal Perang, Al Allamah Guru Madjid Pekojan, Guru Romli Menteng, Guru Mujib Tenabang, Guru Bandan Malaka, KH Muhammad Najihun Basmol, Guru Dulloh Kelapa Dua, Guru Salam Kebon Nanas, belum lagi mereka yang baru-baru ini makamnya kami temukan dan juga masih banyak trah lain yang mempunyai riwayat masing-masing leluhurnya. Semua tokoh-tokoh tersebut rata-rata mempunyai garis keturunan yang jelas dan terpelihara. Mereka para mujahid dan Syuhada ini banyak menurunkan ulama-ulama besar dan juga tokoh-tokoh penting di negeri Fathan Mubina (Jakarta). Dan keturunan mereka sampai sekarang masih terus melanjutkan roda estafet perjuangan dalam menegakkan jihad fisabillah..
(Sumber penulisan utama berdasarkan Kitab Al-Fatawi yang ditulis dalam bahasa arab melayu pada tahun 1910 oleh Al Allamah KH Ahmad Syar'i Mertakusuma/Kumpi Syari). juga buku Wangsa Aria Jipang di Jayakarta

Senin, 17 April 2017

MARSOSE DAN CENTENG BAYARAN DI MASA PITUNG



Terkejut saya mendengar ketika ada orang yang katanya pribumi Jakarta tiba-tiba secara berani menyatakan dukungan penuh terhadap Sang Tersangka. Sampai saat ini terus terang saya masih belum percaya dengan berita ini apalagi jika itu mengatas namakan ormas...jujur saya masih belum percaya..tapi kalau seandainya itu benar terjadi saya mengucapkan "Innalillahi Wa Innailahi Rojiun". 

Saya tiba tiba teringat akan kisah Pituan Pitulung (Pitung) atau 7 Mujahid Jayakarta. Dahulu dalam perjuangannya, yang terberat harus mereka hadapi adalah bangsanya sendiri. Sebagian bangsa kita ada yang rela menghambakan dirinya kepada Penjajah dan tuan tanah china demi mendapatkan imbalan harta, baik itu uang, tanah atau jabatan. 

Para penghianat pribumi inilah yang sering menjadi batu sandungan dalam perjuangan 7 Mujahid Jakarta itu. Diantara sekian penghianat itu ada nama MARSOSE dan CENTENG CENTENG BAYARAN. Marsose adalah Tentara Bayaran yang direkrut Belanda untuk menghadapi para Mujahid Indonesia saat itu termasuk Pitung. Mereka berasal dari beberapa daerah Nusantara. Mereka terkenal kejam dan sadis terhadap pribumi setempat. Mereka itu sebenarnya dibayar murah oleh Belanda tapi jiwa loyalitas mereka bagaikan anjing peliharaan. Marsose inilah yang berhasil menembak dua dedengkot Pitung hingga syahid. Oleh Pitung marsose berapa kali dibuat pontang panting..

Selain Marsose musuh utama Pitung adalah centeng-centeng bayaran yang berasal dari Pribumi juga. Mereka ini pribumi lemah iman yang rela dibayar demi nafsunya. Centeng centeng ini sebenarnya punya kemampuan silat namun kemampuan itu justru buat menindas rakyat dan mengawal para tuan tanah china bahkan juga para Schout (seperti Kapolres). Centeng centeng ini tidak pernah bisa mengalahkan semua anggota Pitung. Banyak dari mereka ini jerih untuk menghadapi pitung, anehnya gaya para centeng sombongnya selangit, bila berjalan selalu petantang petenteng, tapi pas berhadapan dengan Pitung langsung ciut nyalinya apalagi seluruh anggota Pitung dikenal sering tidak memberi ampun bagi mereka yang sering menghina akidah mereka dan menindas rakyat. 

Marsose dan Centeng centeng bayaran adalah sejarah kelam rakyat Jakarta. Mereka berasal dari Pribumi. Ironis dan tidak masuk akal bila sekarang ada pribumi Jakarta menjadi pendukung Si Tersangka, tanpa sadar (atau sadar ?) mereka itu sama saja mengulang kisah MARSOSE DAN CENTENG CENTENG BAYARAN. Dan itu artinya dia tidak faham atau mungkin buta sejarah akan Jakarta...

NAPAK TILAS DI UJUNG SENJA KE MAKAM WALIYULLAH TUBAGUS SINGA RANTAI DI KLENDER


Sore hari ini tanggal 24 November 2016 setelah pulang dari rutinitas pekerjaan saya menyempatkan diri untuk melakukan napak tilas. Untuk perjalanan kali ini saya mencari keberadaan makam seorang waliyullah yang berdarah banten. Nama beliau saya ketahui setelah sahabat facebook saya memberi tahu. Tentu adanya informasi seperti ini membuat saya tertarik, apalagi ketika mendengar riwayat bahwa makam ini tidak terbakar sama sekali ketika terjadi peristiwa kebakaran besar di daerah tersebut. 

Makam ini posisinya berada di jalan raya bekasi timur km 15 dan ternyata juga tidak jauh dari stasiun dan pasar klender Jakarta Timur. Letaknya berada di bekas Pabrik Es batu yang pernah kebakaran. Jaraknya paling sekitar 200 meter dari kedua lokasi yang saya sebutkan tadi. Jika dilihat keberadaannya, sangat jelas jika Waliyullah ini masih merupakan kerabat atau keluarga besar jatinegara kaum. Beberapa tahun yang lalu menurut salah satu penduduk setempat makam keramat ini selalu dikunjungi para peziarah dari banyak daerah. Makam ini jelas berada tidak jauh dari jalan raya, di depannya ada tempat jual beli kayu bekas yang didominasi pedagang dari etnis madura.

Sempat juga saya keder nyari alamat ini makam (hehehe) padahal daerah ini hampir tiap hari saya lewati. Memang begitulah seninya jika kita mencari situs situs sejarah...dicari kadang sulit ..tidak dicari justru sering kita lewati...terus terang begitu masuk lokasi ini, rasanya kok kayak daerah Betawi tempo dulu. Di dekat makam saya lihat juga banyak melihat para orangtua sedang santai santai sambil bermain kartu. Di sekitar makam saya juga melihat banyak mobil yang diparkir..sepertinya lokasi ini menjadi tempat parkir. Namun secara umum kondisi makam cukup baik dan terawat, hanya saja sepertinya makam ini perlu mendapat perawatan lebih baik lagi. Seperti pada makam para waliyullah, tanah yang ada di makam ini tumbuh (seperti adanya sarang semut). Tentu ini sebuah keunikan karena hal seperti ini banyak saya temukan. Kalaupun itu sarang semut, yang jadi pertanyaan kenapa fenomena itu banyak terdapat dimakam para wali, sedangkan kiri kanannya datar datar saja..(wallahu a"lam)

Untuk riwayat lengkap tentang waliyullah Insya Allah saya akan membuka dulu catatan silsilah Banten yang saya miliki.. 

Selamat melakukan ziarah....

FENOMENA UNIK TANAH TUMBUH DI MAKAM KERAMAT (MAKAM WALIYULLAH TUBAGUS SINGA RANTAI KLENDER JAKARTA TIMUR)


Dalam setiap penelitian makam bersejarah selalu saja saya menemukan bentuk makam seperti ini, utamanya makam para Waliyullah, ulama bahkan Mujahid. Memang sih tidak semua makam orang orang mulia itu berbentuk seperti ini, ada juga yang bentuk biasa dan rata. Namun tidak ada salah juga kalau ini kita cermati.

Yang membuat saya penasaran tumbuhnya tanah ini selalu berada di makam makam keramat tersebut seperti makam Waliyullah Tubagus Singa Rantai. Sekilas tumbuhnya tanah ini karena adanya semut yang membuat sarang, tapi anehnya kok semut-semut tersebut betahnya ditempat seperti ini ya ?.

Dalam istilah beberapa teman, tanah ini sering disebut tanah PUNDUNG. Tanah yang menunjukan "kebesaran" shohibul makam. Adanya bentuk tanah ini kadang menjadi daya tarik atau magnet orang untuk berziarah.

Tanah tumbuh yang sudah ratusan tahun biasanya sudah mengeras atau membatu sehingga kalau itu dikatakan sarang semut agak aneh juga..Ayah saya sendiri pernah mengatakan, "kalau kamu menemukan makam yang tanahnya tumbuh atau hidup, maka sesungguhnya mereka yang dimakamkan kebanyakan orang mulia atau keramat..."

Wallahu A'lam Bisshowwab....

MENEMUKAN MAKAM KUMPI INDRA (GURU PITUAN PITULUNG/PITUNG)



Tulisan tentang Guru Pituan Pitulung ini adalah sebuah revisi, karena sebelumnya makam yang share adalah pengawal beliau yang juga terkenal hebat, hari ini tanggal 28 Novmber 2016 pukul 18.16 saya terjun kembali ke lokasi untuk meneliti makam yang sesungguhnya. Untuk gambar yang share kemarin harap dimaklumi dikarenakan saya dan istri sudah kelelahan karena sejak dari pagi sampai menjelang magrib telah melakukan peneliitian di 9 makam keramat termasuk makam Bang Jago, sehingg kami tidak fokus apalagi nara sumber kami menyatakan itu makam bang jago, tidak saya sangka makam yang terakhir justru kami meleset, tapi tak perlu saya terangkan kenapa saya meleset karena ini masalah tehnis dan pribadi seseorang, justru ada hikmahnya karena dengan begitu saya bisa memastikan 1000% bahwa inilah makam Bang Jago atau kumpi indra yang merupakan guru Pituan Pitulung.

Untuk tulisan kemarin tetap saya tidak edit...biarlah itu menjadi kenangan...

INILAH TULISAN KEMARIN.

Sekalipun pada hari ini saya kecewa dan sedih karena hilangnya makam dedengkot Pitung di Bandengan Utara Jakarta Utara. Namun rasa sedih itu tergantikan setelah saya berhasil menemukan makam dari salah satu guru Pituan Pitulung yaitu Kumpi Indra yang terdapat di Jakarta Pusat tepatnya di Jalan Bendungan jago gang makam. 

Beliau adalah pemegang 100 jurus silat asli Jayakarta. Kong Indra ini gurunya Pituan Pitulung yang salah satunya adalah KH Ahmad Syar'i atau Kong Syari atau Babe Betawi. KH AHMAD SYAR'I yang merupakan penulis kitab Al Fatawi adalah murid kesayangan Kumpi Indra. Kong Syari belajar saat remaja dan telah dinyatakan lulus oleh Kong Indra sehingga Kong Syari dalam usia muda sudah menjadi Pendekar tangguh. Kong Indra sendiri masih satu masa dan juga satu jaringan dengan guru Pitung yang lain yaitu Guru Haji Naiipin dari Kebon Pala Tenabang 

Kong Indra sendiri adalah seorang Ahli Silat Handal, Pendekar besar, ulama yang alim dan penganut ilmu Tarekat. Bahkan ada yang berpendapat kalau beliau itu Waliyullah. Di daerah Kemayoran sendiri beliau lebih dikenal dengan nama makam Bang Jago. Tidak heran pada masa beliau Kemayoran dikenal sebagai gudangnya pendekar. Secara kebetulan nama di daerah makam beliau dinamakan Bendungan Jago. Siapa sangka ditengah padatnya pemukiman penduduk ada makam orang besar Betawi Kemayoran tempo dulu.

Kong Indra atau Bang Jago atau Kumpi Jago adalah sosok ulama yang khas dan multi talenta. Beliau bisa maen pukulan dengan hebat tapi alim pula dalam bidang ilmu agama. Saya beruntung bisa menemukan makam bersejarah ini. Sayangnya kondisi makam beliau saat ini sudah sangat terdesak karena adanya bangunan rumah, padahal menurut mak ceceh yang merupakan juru kunci makam dahulunya sekitar makam banyak pohon besar dan makam Kong Indra ini pernah dibuatkan rumah, namun kemudian bangunan makam dibongkar karena tanahnya sudah menjadi milik orang lain padahal tanah tanah di sekitar makam Kong Indra adalah tanah wakaf.

Al fatehah untuk Guru Besar Pitung...

MENEMUKAN MAKAM SANG MACAN BETAWI KUMPI RONDA / BANG RONDA (MUJAHID BETAWI TEMPO DULU)

Lagi-lagi dalam penelitan sejarah Jakarta, saya menemukan kembali sebuah situs bersejarah yang cukup penting. Kali ini saya menemukan makam salah satu Mujahid Jakarta tempo dulu yaitu Bang Ronda. Saya sengaja tidak menulis panggilan "SI" karena menurut penuturan keluarga Kumpi Syar'i , Panggilan "SI" lebih cenderung melecehkan orang Betawi, karena panggilan ini sering digunakan para Tuan tanah dan Penjajah untuk memanggil para pejuang kita.

Panggilan Bang Ronda sepertinya memang lebih familier dan berjiwa kebetawian serta lebih bernilai penghormatan kepada sosok orang yang lebih tua dan lebih berjasa dalam masyarakat Betawi.

Saya mencari makam ini bersama istri, Cukup lumayan juga mencari makam yang tersembunyi ini apalagi keberadaannya tidak banyak yang mengetahuinya. Makam ini terletak di belakang Pasar Memble Rawa Gabus Cengkareng Jakarta Barat. Harap maklum keberadaan makam beliau ini tidaklah mashyur, sebab saya sudah banyak bertanya kesana-sini, tapi jawabannya kurang memuaskan, namun demikian saya tidak patah semangat sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang satpam yang mengetahui makam sang pendekar besar tersebut, kebetulan satpam ini tugasnya tidak jauh dari letak lokasi makam Kumpi Ronda. Alhamdulillah, bahkan saya dianjurkan satpam tersebut untuk meminta kunci pagar makam kepada juru kunci yaitu Bang Karung.

Untuk memasuki komplek makam ini saya pun harus ke rumah keluarga Bang Karung yang memegang kunci. alhamdulilah keluarga mereka sangat ramah bahkan mereka memberikan langsung kunci pagar untuk saya bawa ke komplek pemakaman. Suasana sekitar makam sangat sederhana, tapi siapa sangka disini telah terbaring seorang Pendekar Besar Betawi tempo dulu, seorang pejuang atau Mujahid yang paling dicari-cari setelah eranya Pitung. Makam beliau sangat sederhana dan lingkungannya rindang dan nyaman, hanya nyamuk kebunnya sangat luar biasa..tapi itu sih bukan sebuah halangan..

Dalam sejarah Belanda, seperti biasa gambaran sosok ini selalu ditulis dalam konotoasi yang jelek, masyarakat awam dibuat untuk lebih mengenalnya sebagai sosok perampok ketimbang mujahid, namun bagi para jaringan mujahid jayakarta, Bang Ronda adalah sosok Pejuang. Di mata anak cucunya beliau memang lebih dikenal sebagai sosok Mujahid ketimbang predkat lain...

Beruntunglah saya bisa menemukan makam orang besar Betawi tempo dulu...

Al Fatehah untuk Bang Ronda.....